Selasa, 28 Februari 2012

Makalah SABUN


BAB I
PENDAHULUAN

A.    SEJARAH SABUN
Awal Sejarah Sabun
Asal dari kebersihan pribadi kembali ke zaman prasejarah. Sejak air menjadi bagian yang penting untuk kehidupan, orang pertama yang hidup di dekat air dan tahu sesuatu apa itu properti kebersihan dan sedikitnya bagaimana cara membilas lumpur dari tangan mereka. Benda mirip sabun ditemukan dalam bentuk tabung saat penggalian di Babilonia Kuno adalah fakta tentang
adanya pembuatan sabun yang diketahui terjadi pada tahun 2800 SM. Persembahan di tabung mengatakan bahwa lemak direbus dengan abu, yang mana merupakan  metoda pembuatan sabun, tetapi bukan mengenai kegunaan sabun itu.
Beberapa catatan memperlihatkan bahwa orang Mesir Kuno mandi dengan cara biasa. Berdasarkan dokumen kesehatan sekitar tahun 1500 SM, Papirus Eber mendeskripsikan kombinasi minyak hewani dan nabati dengan garam alkali untuk membuat bahan sejenis sabun untuk menyembuhkan penyakit kulit juga untuk membersihkan.
Di waktu yang sama, Musa memberi orang Israel peraturan perintah kebersihan pribadi. Dia juga menghubungkan kebersihan dengan kesehatan dan penyucian agama. Laporan Injil menyatakan bahwa orang Israel tahu bahwa campuran abu dan produk minyak adalah jenis dari gel rambut.
Orang Yunani Kuno mandi untuk alasan estetik dan rupanya tidak menggunakan sabun. Justru mereka membersihkan tubuh mereka dengan batangan lilin, pasir, batu apung dan abu juga membaluri tubuh dengan minyak, menggosok tubuh dengan peralatan metal yang disebut strigil, selain itu mereka juga menggunakan minyak dan abu.
Nama sabun didapatkan diantara legenda Romawi Kuno dari Gunung Sapo dimana binatang dikorbankan. Hujan membuat terbentuknya campuran lemak dari hewan mencair atau lemak dan abu kayu dibawah menjadi lilin di sepanjang Sungai Tiber. Para wanita menemukan bahwa campuran tersebut membantu mereka dalam membersihkan sesuatu.
Ketika peradaban Romawi maju kegiatan mandi mulai dikenal. Tempat mandi perama orang Romawi terkenal dengan terdapatnya saluran air, yang dibangun sekitar tahun 312 SM. Mandi dianggap sangat mewah, dan mandi menjadi populer. Di abad-ke 2 Masehi, dokter Yunani Galen menganjurkan sabun untuk pengobatan dan sebagai pembersih.
Setelah musim gugur di Roma tahun 467 masehi dan kebiasaan mandi mulai menurun, mandi lebih banyak di lakukan oleh orang Eropa karena pengaruh yang kuat dari kesehatan publik. Menurunnya kebersihan pribadi berhubungan dengan kondisi kehidupan yang tanpa sanitasi sehingga memperbesar wabah di abad pertengahan, khususnya kematian hitam di abad ke-14. Pada abad ke-17 kebersihan dan mandi kembali menjadi kebiasaan di banyak tempat di Eropa. Pada abad pertengahan mandi sehari-hari merupakan adat yang biasa di Jepang, disamping itu di Islandia, kolam dengan air dari mata air panas adalah tempat berkumpul yang populer di sabtu sore.
Pertengahan Abad Sejarah Pembuatan Sabun
Tidak dapat dipungkiri, pada abad ke 17 pembuatan sabun merupakan keahlian di Eropa. Serikat pekerja pembuat sabun terlindungi dan perdagangan rahasia mereka ditutup. Lemak nabati dan hewani digunakan bersama arang tanaman, dan pewangi. Secara berangsur-angsur jenis sabun yang tersedia menjadi lebih banyak, diantaranya untuk mencukur, mencuci rambut, juga mandi dan mencuci.
Italia, Spanyol dan Perancis adalah pusat manufaktur pertama sabun, dan seharusnya mereka siap untuk menyediakan bahan mentah pembuatan sabun seperti minyak zaitun. Orang Inggris mulai membuat sabun pada abad ke 12. Pada tahun 1622 bisnis sabun menjadi sangat pesat, hingga Raja James I mengabulkan monopoli kepada pembuat sabun sebesar $100.000 pertahun. Memasuki  abad ke-19, pajak sabun adalah yang tertinggi, sehingga sabun menjadi barang mewah di beberapa negara. Ketika pajak dihapuskan, sabun menjadi barang yang tersedia untuk orang biasa, dan standar kebersihan juga meningkat.
Pembuatan sabun komersial di Amerika dimulai pada tahun 1608 dengan datangnya beberapa pembuat sabun di kapal kedua dari Inggris untuk mencapai Jamestown, Virginia. Bagaimanapun, untuk beberapa tahun pembuatan sabun pada dasarnya menjadi pekerjaan rumah tangga.
Di Zaman Modern atau Zaman Sekarang
Bahan dasar kimia dari manufaktur sabun masih sama sampai tahun 1916, ketika deterjen sintetik pertama berkembang di Jerman pada Perang Dunia I berkaitan dengan berkurangnya lemak untuk membuat sabun. Sekarang diketahui bahwa deterjen sintetis adalah pembersih non-sabun. Penjelajahan dari deterjen dilakukan untuk memenuhi kebutuhan alat kebersihan, tidak seperti sabun, deterjen tidak dikombinasi dengan garam mineral di air untuk membentuk sesuatu yang tidak dapat dipecahkan yang diketahui itu adalah busa sabun.
Produksi deterjen rumah tangga di Amerika Serikat dimulai di awal tahun 1930-an, tetapi tidak sampai akhir Perang Dunia II. Ketika Perang Dunia berhenti, persediaan lemak dan minyak juga merupakan kebutuhan militer yang digunakan untuk alat kebersihan ketika bekerja di air laut.
Deterjen pertama digunakan untuk mencuci piring dan mencuci baju dari bahan yang lembut. Perkembangan detergen untuk mencuci baju serba guna sudah populer pada tahun 1946, ketika deterjen (berisi surfaktan/kombinasi pembangun) dikenalkan di Amerika Serikat. Surfaktan adalah produk deterjen bahan pembersih dasar, adanya surfaktan membantu deterjen untuk bekerja lebih efisien.
Di tahun 1953, penjualan deterjen di negara ini lebih meningkat dari sabun. Kini, detergen dapat digunakan untuk menggantikan  sabun untuk mencuci baju, mencuci piring dan pembersih rumah tangga. Deterjen (sendiri atau berkombinasi dengan sabun) banyak digunakan dalam bentuk batang dan cair sebagai pembersih badan.
Sejak prestasi di deterjen dan bahan kimia meningkat, aktivitas produk baru memiliki lanjutan yang  berfokus pada pembuatan produk pembersih praktis dan mudah untuk digunakan, yang aman bagi konsumen dan lingkungan.
B.    TUJUAN
1.    Untuk mengenal sabun
2.    Untuk mengetahui macam-macam sabun
3.    Untuk mengetahui bahan baku utama pembuatan sabun
4.    Untuk mengetahui bahan baku pendukung pembuatan sabun
5.    Untuk mengetahui karakteristik memilih bahan baku sabun
6.    Untuk mengetahui sifat-sifat sabun
7.    Untuk mengetahui metoda-metoda pembuatan sabun
8.    Untuk mengetahui reaksi saponifkasi
9.    Untuk mengetahui pembuatan sabun dalam industri
10.    Untuk mengetahui dampak dari pemakaian sabun
11.    Untuk mengetahui manfaat limbah sabun

C.    RUMUSAN MASALAH
1.    Apa itu sabun?
2.    Apa saja macam-macam sabun?
3.    Apa saja bahan baku utama pembuatan sabun?
4.    Apa saja bahan baku pendukung pembuatan sabun?
5.    Bagaimana karakteristik memilih bahan baku sabun?
6.    Apa saja sifat-sifat sabun?
7.    Bagaimana metoda-metoda pembuatan sabun?
8.    Apa itu reaksi saponifkasi?
9.    Bagaimana pembuatan sabun dalam industri?
10.    Apa saja dampak dari pemakaian sabun?
11.    Apa saja manfaat limbah sabun?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGENALAN SABUN
Sabun merupakan bahan logam alkali dengan rantai asam monocarboxylic yang panjang. Larutan alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun bergantung pada jenis sabun tersebut. Larutan alkali yang biasa digunakan pada sabun keras adalah Natrium Hidroksida (NaoH) dan alkali yang biasa digunakan pada sabun lunak adalah Kalium Hidroksida (KOH).
Sabun berfungsi untuk mengemulsi kotoran-kotoran berupa minyak ataupun zat pengotor lainnya. Sabun dibuat melalui proses saponifikasi lemak minyak dengan larutan alkali membebaskan gliserol. Lemak minyak yang digunakan dapat berupa lemak hewani, minyak nabati, lilin, ataupun minyak ikan laut.
Pada saat ini teknologi sabun telah berkembang pesat. Sabun dengan jenis dan bentuk yang bervariasi dapat diperoleh dengan mudah dipasaran seperti sabun mandi, sabun cuci baik untuk pakaian maupun untuk perkakas rumah tangga, hingga sabun yang digunakan dalam industri.
Kandungan zat zat yang terdapat pada sabun juga bervariasi sesuai dengan sifat dan jenis sabun. Zat zat tersebut dapat menimbulkan efek baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Oleh karena itu, konsumen perlu memperhatikan kualitas sabun dengan teliti sebelum membeli dan menggunakannya.
Pada pembuatan sabun, bahan dasar yang biasa digunakan adalah : C12 – C18
Jika : < C 12     : Iritasi pada kulit
> C20 : Kurang larut (digunakan sebagai campuran)
Sabun murni terdiri dari 95% sabun aktif dan sisanya adalah air, gliserin, garam dan impurity lainnya. Semua minyak atau lemak pada dasarnya dapat digunakan untuk membuat sabun. Lemak dan minyak nabati merupakan dua tipe ester. Lemak merupakan campuran ester yang dibuat dari alcohol dan asam karboksilat seperti asam stearat, asam oleat dan asam palmitat. Lemak padat mengandung ester dari gliserol dan asam palmitat, sedangkan minyak, seperti minyak zaitun mengandung ester dari gliserol asam oleat.
Sabun adalah salah satu senyawa kimia tertua yang pernah dikenal. Sabun sendiri tidak pernah secara aktual ditemukan, namun berasal dari pengembangan campuran antara senyawa alkali dan lemak/minyak.
Bahan pembuatan sabun terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan bahan pendukung. Bahan baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan senyawa alkali (basa). Bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan untuk menambah kualitas produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya tarik. Bahan pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya natrium klorida, natrium karbonat, natrium fosfat, parfum, dan pewarna.
B.    MACAM-MACAM SABUN
Macam-macam Sabun:
a. Shaving Cream
Shaving Cream disebut juga dengan sabun Kalium. Bahan dasarnya adalah campuran minyak kelapa dengan asam stearat dengan perbandingan 2:1.
b. Sabun Cair
Sabun cair dibuat melalui proses saponifikasi dengan menggunakan minyak jarak serta menggunakan alkali (KOH). Untuk meningkatkan kejernihan sabun, dapat ditambahkan gliserin atau alcohol.
c. Sabun kesehatan
Sabun kesehatan pada dasarnya merupakan sabun mandi dengan kadar parfum yang rendah, tetapi mengandung bahan-bahan antiseptic dan bebas dari bakteri adiktif. Bahan-bahan yang digunakan dalam sabun ini adalah tri-salisil anilida, tri-klor carbanilyda, irgassan Dp300 dan sulfur.
d. Sabun Chip
Pembutan sabun chip tergantung pada tujuan konsumen di dalam menggunakan sabun yaitu sebagai sabun cuci atau sabun mandi dengan beberapa pilihan komposisi tertentu. Sabun chip dapat dibuat dengan berbagai cara yaitu melalui pengeringan, atau menggiling atau menghancurkan sabun yang berbentuk batangan.
e. Sabun Bubuk untuk mecuci
Sabun bubuk dapat diproduksi melalui dry-mixing. Sabun bubuk mengandung bermacam-macam komponen seperti sabun, sodasah, sodium metaksilat, sodium karbonat, sodium sulfat, dan lain-lain.
Berdasarkan ion yang dikandungnya, sabun dibedakan atas :
1)    Kationik Sabun
Sabun yang memiliki kutub positif di sebut sebagai kationik detergen. Sebagai tambahan selain adalah bahan pencuci yang bersih, sabun ini mengandung sifat antikuman yang membuatnya banyak digunakan pada rumah sakit. Kebanyakan sabun jenis ini adalah turunan dari ammonia.
2)    Anionik Sabun
Sabun jenis ini adalah merupakan sabun yang memiliki gugus ion negatif.
3)    Netral atau Non Ionik Sabun
Nonionik sabun banyak digunakan untuk keprluan pencucian piring. Karena sabun jenis ini tidak memiliki adanya gugus ion apapun, sabun jenis ini tidak beraksi dengan ion yang terdapat dalam air sadah. Nonionic sabun kurang mengeluarkan busa dibandingkan dengan ionic sabun.
C.    BAHAN BAKU UTAMA PEMBUATAN SABUN
Lemak dan minyak yang umum digunakan dalam pembuatan sabun adalah trigliserida dengan tiga buah asam lemak yang tidak beraturan diesterifikasi dengan gliserol. Masing masing lemak mengandung sejumlah molekul asam lemak dengan rantai karbon panjang antara C12 (asam laurik) hingga C18 (asam stearat) pada lemak jenuh dan begitu juga dengan lemak tak jenuh. Campuran trigliserida diolah menjadi sabun melalui proses saponifikasi dengan larutan natrium hidroksida membebaskan gliserol. Sifat sifat sabun yang dihasilkan ditentukan oleh jumlah dan komposisi dari komponen asam asam lemak yang digunakan. Komposisi asam lemak yang sesuai dalam pembuatan sabun dibatasi panjang rantai dan tingkat kejenuhan. Pada umumnya, panjang rantai yang kurang dari 12 atom karbon dihindari penggunaanya karena dapat membuat iritasi pada kulit, sebaliknya panjang rantai yang lebih dari 18 atom karbon membentuk sabun yang sukar larut dan sulit menimbulkan busa. Terlalu besar bagian asam asam lemak tak jenuh menghasilkan sabun yang mudah teroksidasi bila terkena udara. Alasan di atas, faktor ekonomis, dan daya jual menyebabkan lemak dan minyak yang dibuat menjadi sabun terbatas.
Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan rangkap sehingga titik lelehnya lebih rendah daripada asam lemak jenuh yang tak memiliki ikatan rangkap, sehingga sabun yang dihasilkan juga akan lebih lembek dan mudah meleleh pada temperatur tinggi.
Jenis-jenis Minyak atau Lemak :
Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun harus dibatasi karena berbagai alasan, seperti: kelayakan ekonomi, spesifikasi produk (sabun tidak mudah teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan lain-lain. Beberapa jenis minyak atau lemak yang biasa dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya :
a. Tallow. Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri pengolahan daging sebagai hasil samping. Kualitas dari tallow ditentukan dari warna, titer (temperatur solidifikasi dari asam lemak), kandungan FFA, bilangan saponifikasi, dan bilangan iodin. Tallow dengan kualitas baik biasanya digunakan dalam pembuatan sabun mandi dan tallow dengan kualitas rendah digunakan dalam pembuatan sabun cuci. Oleat dan stearat adalah asam lemak yang paling banyak terdapat dalam tallow. Jumlah FFA dari tallow berkisar antara 0,75-7,0 %. Titer pada tallow umumnya di atas 40°C. Tallow dengan titer di bawah 40°C dikenal dengan nama grease.
b. Lard. Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam lemak tak jenuh seperti oleat (60 - 65%) dan asam lemak jenuh seperti stearat (35 - 40%). Jika digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu untuk mengurangi ketidakjenuhannya. Sabun yang dihasilkan dari lard berwarna putih dan mudah berbusa.
c. Palm Oil (minyak kelapa sawit). Minyak kelapa sawit umumnya digunakan sebagai pengganti tallow. Minyak kelapa sawit dapat diperoleh dari pemasakan buah kelapa sawit. Minyak kelapa sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan zat warna karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih dahulu. Sabun yang terbuat dari 100% minyak kelapa sawit akan bersifat keras dan sulit berbusa. Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun, minyak kelapa sawit harus dicampur dengan bahan lainnya.
d. Coconut Oil (minyak kelapa). Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang sering digunakan dalam industri pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna kuning pucat dan diperoleh melalui ekstraksi daging buah yang dikeringkan (kopra). Minyak kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi, terutama asam laurat, sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi yang menimbulkan bau tengik. Minyak kelapa juga memiliki kandungan asam lemak kaproat, kaprilat, dan kaprat.
e. Palm Kernel Oil (minyak inti kelapa sawit). Minyak inti kelapa sawit diperoleh dari biji kelapa sawit. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pengganti minyak kelapa. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak tak jenuh lebih tinggi dan asam lemak rantai pendek lebih rendah dari pada minyak kelapa.
f. Palm Oil Stearine (minyak sawit stearin). Minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan dari ekstraksi asam-asam lemak dari minyak sawit dengan pelarut aseton dan heksana. Kandungan asam lemak terbesar dalam minyak ini adalah stearin.
g. Marine Oil. Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang cukup tinggi, sehingga harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku.
h. Castor Oil (minyak jarak). Minyak ini berasal dari biji pohon jarak dan digunakan untuk membuat sabun transparan.
i. Olive oil (minyak zaitun). Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan kualitas tinggi memiliki warna kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi kulit.
j. Campuran minyak dan lemak. Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari campuran minyak dan lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering dicampur dengan tallow karena memiliki sifat yang saling melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat dan dan palmitat yang tinggi dari tallow akan memperkeras struktur sabun.


Bahan Baku Utama : Alkali
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH, KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH, atau yang biasa dikenal dengan soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak).
Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Senyawa tersebut dapat digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. Sabun yang dihasilkan sangat mudah larut dalam air, mudah berbusa, dan mampu menurunkan kesadahan air.
Sabun yang terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa menunjukkan sifat mudah berbusa tetapi sabun tersebut lebih umum digunakan sebagai sabun industri dan deterjen, bukan sebagai sabun rumah tangga. Pencampuran alkali yang berbeda sering dilakukan oleh industri sabun dengan tujuan untuk mendapatkan sabun dengan keunggulan tertentu.
D.    BAHAN BAKU PENDUKUNG PEMBUATAN SABUN
Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun menjadi produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan aditif.
a.    NaCl
NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun. Kandungan NaCl pada produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl yang terlalu tinggi di dalam sabun dapat memperkeras struktur sabun. NaCl yang digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau padatan (kristal). NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin. Gliserin tidak mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi, sedangkan sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium, dan magnesium agar diperoleh sabun yang berkualitas.

b.    Bahan Aditif
Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun yang bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen. Bahan-bahan aditif tersebut antara lain : Builders, Fillers inert, Anti oksidan, Pewarna, dan parfum.
1.    Builders (Bahan Penguat)
Builders digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral mineral yang terlarut pada air, sehingga bahan bahan lain yang berfungsi untuk mengikat lemak dan membasahi permukaan dapat berkonsentrasi pada fungsi utamanya. Builder juga membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas. Yang sering digunakan sebagai builder adalah senyawa senyawa kompleks fosfat, natrium sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit.
2.    Fillers Inert (Bahan Pengisi)
Bahan ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan baku. Pemberian bahan ini berguna untuk memperbanyak atau memperbesar volume. Keberadaan bahan ini dalam campuran bahan baku sabun semata mata ditinjau dari aspek ekonomis. Pada umumnya, sebagai bahan pengisi sabun digunakan sodium sulfat. Bahan lain yang sering digunakan sebagai bahan pengisi, yaitu tetra sodium pyrophosphate dan sodium sitrat. Bahan pengisi ini berwarna putih, berbentuk bubuk, dan mudah larut dalam air.
3.     Pewarna
Bahan ini berfungsi untuk memberikan warna kepada sabun. Ini ditujukan agar memberikan efek yang menarik bagi konsumen untuk mencoba sabun ataupun membeli sabun dengan warna yang menarik. Biasanya warna warna sabun itu terdiri dari warna merah, putih, hijau maupun orange.
4.     Parfum
Parfum termasuk bahan pendukung. Keberadaaan parfum memegang peranan besar dalam hal keterkaitan konsumen akan produk sabun. Artinya, walaupun secara kualitas sabun yang ditawarkan bagus, tetapi bila salah memberi parfum akan berakibat fatal dalam penjualannya. Parfum untuk sabun berbentuk cairan berwarna kekuning kuningan dengan berat jenis 0,9. Dalam perhitungan, berat parfum dalam gram (g) dapat dikonversikan ke mililiter. Sebagai patokan 1 g parfum = 1,1ml. Pada dasarnya, jenis parfum untuk sabun dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu parfum umum dan parfum ekslusif. Parfum umum mempunyai aroma yang sudah dikenal umum di masyarakat seperti aroma mawar dan aroma kenanga. Pada umumnya, produsen sabun menggunakan jenis parfum yang ekslusif. Artinya, aroma dari parfum tersebut sangat khas dan tidak ada produsen lain yang menggunakannya. Kekhasan parfum ekslusif ini diimbangi dengan harganya yang lebih mahal dari jenis parfum umum. Beberapa nama parfum yang digunakan dalam pembuatan sabun diantaranya bouquct deep water, alpine, dan spring flower.

E.     KARAKTERISTIK MEMILIH BAHAN BAKU SABUN
Ada beberapa karaktersitik yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan dasar sabun antara lain:
•    Warna
Lemak dan minyak yang berwarna terang merupakan minyak yang bagus untuk digunakan sebagai bahan pembuatan sabun.
•    Angka Saponifikasi
Angka Saponifikasi adalah angka yang terdapat pada milligram kalim hidroksida yang digunakan dalam proses saponifikasi sempurna pada satu gram minyak. Angka saponifikasi digunakan untuk menghitung alkali yang dibutuhkan dalam saponifikasi secara sempurna pada lemak atau minyak.
•    Bilangan Iod
Bilangan iod digunakan untuk menghitung ketidak jenuhan minyak atau lemak, semakin besar angka iod, maka asam lemak tersebut semakin tidak jenuh. Dalam pencampurannya, bilangan iod menjadi sangat penting yaitu untuk mengidentifikasi ketahanan sabun pada suhu tertentu.

F.   SIFAT-SIFAT SABUN
        Sabun memiliki beberapa sifat, diantaranya :
a. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa.

CH3(CH2)16COONa + H2O        CH3(CH2)16COOH + OH-   
b.  Jika larutan sabun dalam air diaduk, maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garam-garam Mg atau Ca dalam air mengendap.
CH3(CH2)16COONa + CaSO4        Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2
c. Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai rantai hydrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam zat organic sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air.
Non polar : CH3(CH2)16 (larut dalam minyak, hidrofobik dan juga memisahkan kotoran non polar)
Polar     : COONa+ (larut dalam air, hidrofilik dan juga memisahkan kotoran polar)
Proses penghilangan kotoran:
•    Sabun didalam air menghasilkan busa yang akan menurunkan tegangan permukaan sehingga air kain sehingga kain menjadi bersih. Meresap lebih cepat ke permukaan kain.
•    Molekul sabun akan mengelilingi kotoran dengan ekornya dan mengikat molekul kotoran. Proses ini disebut emulsifikasi karena antara molekul kotoran dan molekul sabun membentuk suatu emulsi.
•    Sedangkan bagian kepala molekul sabun didalam air pada saat pembilasan menarik molekul kotoran keluar dari kain sehingga kain menjadi bersih.
G.    METODA-METODA PEMBUATAN SABUN
Pada proses pembuatan sabun ini digunakan metode metode untuk menghasilkan sabun yang berkualitas dan bagus. Untuk menghasilkan sabun itu digunakanlah metode metode, yang mana metode metode ini memiliki kelebihan kelebihan dan kekurangannya masing masing.
a.    Metode Batch
Pada proses batch, lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali (NaOH atau KOH) berlebih dalam sebuah ketel. Jika penyabunan telah selesai, garam garam ditambahkan untuk mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengaundung garam, gliserol dan kelebihan alkali dikeluarkan dan gliserol diperoleh lagi dari proses penyulingan. Endapan sabun gubal yang bercampur dengan garam, alkali dan gliserol kemudian dimurnikan dengan air dan diendapkan dengan garam berkali-kali. Akhirnya endapan direbus dengan air secukupnya untuk mendapatkan campuran halus yang lama-kelamaan membentuk lapisan yang homogen dan mengapung. Sabun ini dapat dijual langsung tanpa pengolahan lebih lanjut, yaitu sebagai sabun industri yang murah. Beberapa bahan pengisi ditambahkan, seperti pasir atau batu apung dalam pembuatan sabun gosok. Beberapa perlakuan diperlukan untuk mengubah sabun gubal menjadi sabun mandi, sabun bubuk, sabun obat, sabun wangi, sabun cuci, sabun cair dan sabun apung (dengan melarutkan udara di dalamnya).
b.    Metoda Kontinu
Metoda kontinu biasa dilakukan pada zaman sekarang, lemak atau minyak hidrolisis dengan air pada suhu dan tekanan tinggi, dibantu dengan katalis seperti sabun seng. Lemak atau minyak dimasukkan secara kontinu dari salah satu ujung reaktor besar. Asam lemak dan gliserol yang terbentuk dikeluarkan dari ujung yang berlawanan dengan cara penyulingan. Asam-asam ini kemudian dinetralkan dengan alkali untuk menjadi sabun.

H.     REAKSI SAPONIFIKASI
Kata saponifikasi atau saponify berarti membuat sabun (Latin sapon = sabun dan –fy adalah akhiran yang berarti membuat). Bangsa Romawi kuno mulai membuat sabun sejak 2300 tahun yang lalu dengan memanaskan campuran lemak hewan dengan abu kayu. Pada abad 16 dan 17 di Eropa sabun hanya digunakan dalam bidang pengobatan. Barulah menjelang abad 19 penggunaan sabun meluas.
Reaksi pembuatan sabun adalah sebagai berikut :


Seperti yang kita ketahui, air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O, yaitu molekul yang tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) dan temperatur 273,15 K (0 °C). Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menanding kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul- molekul air.
I.    PEMBUATAN SABUN DALAM INDUSTRI

1. Saponifikasi Lemak Netral
Pada proses saponifikasi trigliserida dengan suatu alkali, kedua reaktan tidak mudah bercampur. Reaksi saponifikasi dapat mengkatalisis dengan sendirinya pada kondisi tertentu dimana pembentukan produk sabun mempengaruhi proses emulsi kedua reaktan tadi, menyebabkan suatu percepatan pada kecepatan reaksi. Jumlah alkali yang dibutuhkan untuk mengubah paduan trigliserida menjadi sabun dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut :

Trigliserida + 3NaOH            3RCOONa+Gliserin

NaOH = [SV x 0,000713] x 100/ NaOH (%) [SV / 1000] x [MV (NaOH)/
MV(KOH)
Dimana SV adalah angka penyabunan dan MV adalah berat molekul
Komponen penting pada sistem ini mencakup pompa berpotongan untuk memasukkan kuantitas komponen reaksi yang benar ke dalam reaktor autoclave, yangt beroperasi pada temperatur dan tekanan yang sesuai dengan kondisi reaksi. Campuran saponifikasi disirkulasi kembali dengan autoclave. Temperatur campuran tersebut diturunkan pada mixer pendingin, kemudian dipompakan ke separator statis untuk memisahkan sabun yang tidak tercuci dengan larutan alkali yang digunakan. Sabun tersebut kemudian dicuci dengan larutan alkali pencuci dikolam pencuci untuk memisahkan gliserin (sebagai larutan alkali yang digunakan) dari sabun. Separator sentrifusi memisahkan sisa sisa larutan alkali dari sabun. Sabun murni (60-63 % TFM) dinetralisasi dan dialirkan ke vakum spray dryer untuk menghasilkan sabun dalam bentuk butiran (78-83 % TFM) yang siap untuk diproses menjadi produk akhir.
2. Pengeringan Sabun
Sabun banyak diperoleh setelah penyelesaian saponifikasi (sabun murni) yang umumnya dikeringkan dengan vakum spray dryer. Kandungan air pada sabun dikurangi dari 30-35% pada sabun murni menjadi 8-18% pada sabun butiran atau lempengan. Jenis jenis vakumspray dryer, dari sistem tunggal hingga multi sistem, semuanya dapat digunakan pada berbagai proses pembuatan sabun. Operasi vakum spray dryer sistem tunggal meliputi pemompaan sabun murni melalui pipa heat exchanger dimana sabun dipanaskan dengan uap yang mengalir pada bagian luar pipa.
Sabun yang sudah dikeringkan dan didinginkan tersimpan pada dinding ruang vakum dan dipindahkan dengan alat pengerik sehingga jatuh di plodder, yang mengubah sabun ke bentuk lonjong panjang atau butiran. Dryer mulai memperkenalkan proses pengeringan sabun yang lebih luas dan lebih efisien dari pada dryer sistem tunggal.

3. Netralisasi Asam Lemak
Reaksi asam basa antara asam dengan alkali untuk menghasilkan sabun berlangsung lebih cepat daripada reaksi trigliserida dengan alkali.
RCOOH + NaOH         RCOONa + H2O        
Jumlah alkali (NaOH) yang dibutuhkan untuk menetralisasi suatu paduan asam lemak dapat dihitung sebagai berikut :
NaOH = {berat asam lemak x 40) / MW asam lemak
Berat molekul rata rata suatu paduan asam lemak dapat dihitung dengan persamaan :
MW asam lemak = 56,1 x 1000/ AV
Dimana AV (angka asam asam lemak paduan) = mg KOH yang dibutuhkan untuk menetralisasi 1 gram asam lemak.
Operasi sistem ini meliputi pemompaan reaktan melalui pemanasan terlebih dihulu menuju turbodisperser dimana interaksi reaktan reaktan tersebut mengawali pembentukan sabun murni. Sabun tersebut, yang direaksikan sebagian pada tahap ini, kemudian dialirkan ke mixer dimana sabun tersebut disirkulasi kembali hingga netralisasi selesai. Penyelesaian proses netralisasi ditentukan oleh suatu pengukuran potensial elektrik (mV) alkalinitas. Sabun murni kemudian dikeringkan dengan vakum spray dryer untuk menghasilkan sabun butiran yang siap untuk diolah menjadi sabun batangan.
4.    Penyempurnaan Sabun
Dalam pembuatan produk sabun batangan, sabun butiran dicampurkan dengan zat pewarna, parfum, dan zat aditif lainnya kedalam ixer (analgamator). Campuran sabun ini kemudian diteruskan untuk digiling untuk mengubah campuran tersebur menjadi suatu produk yang homogen. Produk tersebut kemudian dilanjutkan ke tahap pemotongan. Sebuah alat pemotong dengan mata pisau memotong sabun tersebut menjadi potongan potongan terpisah yang dicetak melalui proses penekanan menjadi sabun batangan sesuai dengan ukuran dan bentuk yang diinginkan. Proses pembungkusan, pengemasan, dan penyusunan sabun batangan merupakan tahap akhir.

J.    DAMPAK DARI PEMAKAIAN SABUN
a.    Pengaruh Sabun terhadap Kesehatan Kulit
Sabun adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Kesehatan kulit sangat bergantung pada pilihan produk sabun yang kita pilih. Semakin basa suatu sabun semakin buruk efeknya pada kulit.
Kulit adalah pertahanan pertama melawan seluruh elemen dari luar tubuh, seperti mikroorganisme, angin dan polutan. Di permukaan kulit terdapat struktur mantel asam. Mantel asam adalah lapisan film yang bersifat asam di permukaan kulit yang berfungsi melindungi kulit. Lapisan ini memegang peranan penting sebagai bagian integral dari fungsi perlindungan stratum korneum.
Membersihkan kulit dengan sabun atau detergen dapat menyebabkan hilangnya mantel asam. Pencucian berulang-ulang mengubah stratum korneum dan fungsi perlindungan, termasuk pH kulit. Jika mantel asam menjadi rusak, atau hilang keasamannya, kulit menjadi lebih rentan rusak dan infeksi.
b.    Pengaruh Sabun Bayi pada Kulit Orang Dewasa
Sabun bayi adalah produk yang diciptakan manusia sebagai salah satu pelindung bagi kulit-kulit dengan kadar pH tubuh yang condong ke arah basa (pH = 7). Dan pada kulit-kulit bayi dan anak-anak memang condong pH bersifat basa. Pada kulit-kulit yang sangat sensitif seperti berjerawat dan lainnya, dianjurkan memang menggunakan pembersih atau sabun yang bersifat seperti ini. Tetapi bila kulit tidak mengalami kelainan atau sejenisnya, sebaiknya kita menggunakan sabun-sabun yang telah biasa kita gunakan sehari-hari.
c.    Pengaruh Sabun terhadap Lingkungan
Sabun yang masuk ke dalam buangan air atau suatu sistem akuatik biasanya langsung terendap sebagai garam – garam kalsium dan magnesium. Oleh karena itu beberapa pengaruh dari sabun dalam larutan mungkin dapat dihilangkan. Akibatnya dengan biodegradasi, sabun secara sempurna dapat dihilangkan dari lingkungan.

Formula yang perlu dihindari dari sebatang sabun :
•    Sodium Hydroxide & Alkaline, menyebabkan kulit teriritasi dan kering.
•    Anti bacterial formula, hanya membersihkan bagian luar tapi tidak mematikan kuman dan bakteri yang ada pada jerawat.
•    Lemak hewani, mengakibatkan jerawat.
•    PH di atas 7, meningkatkan keberadaan Propionobacteria yaitu bakteri penyebab jerawat.
•    SLS dalam jumlah 2% hingga 5% dapat menyebabkan iritasi atau menimbulkan reaksi sensitisasi pada banyak orang.
K.    MANFAAT LIMBAH SABUN
a.    Limbah Sabun untuk Membuat Kertas Daur Ulang Wangi
Kertas daur ulang sudah tidak asing lagi digunakan sebagai hasil karya seni seperti kartu undangan dan kotak pembungkus kado. Untuk memunculkan aroma tersebut, mereka ternyata menggunakan bahan dasar dari limbah sabun atau shampo yang biasa kita gunakan sehari hari. Kita juga bisa mendapatkan limbah yang telah dipadatkan dari pabrik pembuat sabun. Cara untuk membuat kertas daur ulang wangi tersebut cukup mudah dan bisa dilakukan di rumah. Semua jenis kertas bisa diolah kembali seperti kertas koran atau bekas tugas sekolah. Kertas kemudian dirobek dengan ukuran sekitar satu sampai dua sentimeter persegi dan direndam selama sehari. Kertas yang direndam tersebut kemudian dicampurkan dengan limbah sabun yang kita dapatkan. Kertas kemudian di-blender sampai berupa bubur dan dicampur dengan lem kayu. Lem ini berfungsi untuk merekatkan struktur bubur kertas. Setelah itu adonan kemudian dicetak dengan menggunakan alat sablon. Adonan kemudian ditutup dengan kain goni dan disaring air yang tersisa. Setelah itu, kertas pun dikeringkan di bawah sinar matahari selama setengah hari. Daur ulang kertas wangi ini bermanfaat mengurangi limbah sabun yang tidak bisa diuraikan oleh bakteri.
b.    Limbah Sabun Diolah Menjadi Sabun Colek
Potongan-potongan sabun batangan dapat diolah kembali menjadi sabun cuci. Potongan-potongan tersebut dapat diperoleh dari pabrik-pabrik besar. Satu kantong plastic potongan sabun dapat dijadikan satu ember besar sabun cair padat. Hal tersebut dapat mengirit pengeluaran dan juga mengirit sabun, dan biasanya satu ember tersebut dapat digunakan selama tiga bulan.





BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari makalah tentang proses pembuatan sabun ini adalah sebagai berikut :
1.    Sabun merupakan bahan logam alkali dengan rantai asam monocarboxylic yang panjang.
2.    Macam-macam sabun diantaranya shaving cream, sabun cair, sabun kesehatan, sabun chip, sabun bubuk untuk mencuci. Dan berdasarkan ion yang dikandungnya sabun dibedakan atas kationik sabun, anionik sabun, dan non ionik sabun.
3.    Bahan baku utama pembuatan sabun adalah minyak/ lemak dan alkali.
4.    Bahan baku pendukung pembuatan sabun adalah NaCl atau garam dan bahan-bahan aditif.
5.    Karakteristik dalam memilih bahan dasar sabun di antaranya warna, angka saponifikasi, dan bilangan ion.
6.    Sabun memiliki sifat basa, menghasilkan buih, dan mempunyai sifat membersihkan.
7.    Metoda-metoda proses pembuatan sabun ada dua macam yaitu metoda batch dan metoda kontinu.
8.    Reaksi saponifikasi atau saponifi merupaka reaksi pada pembuatan sabun.
9.    Tahap tahap proses pembuatan sabun ada 4 yaitu, saponifikasi lemak netral, pengeringan, netralisasi asam lemak, dan penyempurnaan sabun.
10.    Penggunaan sabun yang tidak semestinya akan berdampak pada kesehatan kulit dan lingkungan.
11.    Limbah sabun memiliki manfaat di antaranya sebai bahan pembuatan kertas wangi dan bahan sabun colek.

B.     SARAN
Demikianlah makalah tentang proses pembuatan sabun ini dibuat, untuk mendukung ataupun untuk memperbaiki makalah ini diperlukan saran saran yang bersifat membangun sehingga nantinya makalah ini menjadi lebih bagus dan sempurna.
DAFTAR PUSTAKA

American Journal of Contact Dermatitis, Maret 2001, halaman 28–32European Journal of Dermatology, September-Oktober 2001, halaman 416-419
Irdoni, hs, Nirwana, hz. 2009. Modul Kimia Organik (Praktikum). Universitas Riau: Pekanbaru
http://madja.wordpress.com/2007/12/20/primsip-proses-produksi-sabun/
http://putraindonesiamalang.or.id/
http://www.klipingku.com/
http://majarimagazine.com/2009/07/bahan-pembuatan-sabun/
http://chem-is-try.org//sabun-detergen/
www.wikipedia.org/wiki/sabun
www.4libraries.com/pour-mencair-dan-pembuatan-sabun
www.majarimagazine.com/sabun/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar